Petualang Akhir Tahun
Akhir tahun 2006 mungkin menjadi lembaran baru bagi pasangan Ryan -redaksi PC Media- dan Ika. Soalnya, pada 30 Desember 2006 mereka melangsungkan pernikahan di kota Cilacap, tepatnya di Gereja St. Stephanus (Sakramen) dan Gedung Patra Graha (Resepsi). Ah... Ryan, akhirnya lu melepas lajang yang selama ini sudah lu jaga dengan firewall (komputer banget sih!).
Sayangnya, cuma 3 anggota PC Media yang hadir di acara ini, yaitu Fanny, Yanuar, dan Wiryadi. Dan dengan kebaikan keluarga Ika, kita sudah disediakan rumah untuk tempat nginep di dalam kompleks Pertamina. Sebenarnya rumah ini berkapasitas 6000 orang dan sudah dilengkapi arena joging dan sabung ayam (ini rumah atau stadion bola sih?). Tapi, di rumah sebesar dan seluas itu, hanya diinepin ama 3 orang. Jadinya kita tidurnya seenaknya aja, kepala di kamar mana, kaki di kamar mana, dan tangan di kamar mana. Pokoknya seenaknya deh.
Namun, 3 makhluk ini pantas disebut "petualang tangguh". Bagaimana tidak? Bayangkan saja, perjalanan dimulai pukul 16.30 (29 Desember 2006) dari Jl. Kramat IV, bahkan jam kantor belum selesai udah nekat kabur!! Tangguh gak tuh? Ok, itu mungkin masih biasa...
Coba yang ini, perjalanan pertama menuju Bandung melalui tol Cipularang. Dan sempat mencicipi tahu di daerah Cileunyi, kemudian perjalanan diteruskan ke Cilacap melalui rute Nagrek-Tasikmalaya-Banjar-Wangon. Dan selama diperjalanan, selain udah kenyang melihat kesemokan pantat bis-bis Budiman, kita juga selalu dibuat penasaran oleh spanduk-spanduk Rumah Makan Taman PringSewu yang hadir di pinggir jalan setiap beberapa ratus meter. Padahal jarak ke tempat makan itu masih jauh, sekitar 50an kilometer. Dan yang bikin penasaran lagi, udah dibikin penasaran sama spanduk reklame, rumah makan itu belum sempat disinggahi malam itu. Malah mampir di rumah makan yang cuma berjarak 100 meter sebelum PringSewu. Iihh... payah banget gak sih? Secara sudah dibikin penasaran sama milyaran spanduk yang dilewati, eh malah gak dimampirin.
Perjalanan sampai di Cilacap sekitar jam 2 pagi (30 Desember 2006) yang langsung menuju rumah keluarga Ika yang kemudian diteruskan ke rumah inep yang tadi udah dibahas. Kemudian istirahat selama dua hari... :) Bo'ong ding!
Sekitar jam 11an siang (6 jam dari kedatangan di Cilacap) kita menuju acara nikahan Ryan - Ika. Di acara ini bisa kita temukan, Bakwan Malang, Empek-empek, Soto Sulung, Soto Ayam, Sate Ayam, dan lain-lain. Eh, iya lupa... tentunya sama ada si Ryan sama Ika sebagai pasangan pengantin baru. Di sini sangat terlihat jelas tujuan kita ke acara ini. Makanan! He he he...
Setelah kenyang menikmati hidangan dan berfoto-foto dengan pengantin, dari Gedung Patra Graha, sekitar jam 2 siang (30 Desember 2006), kita langsung cabut ke Pangandaran melalui rute Cilacap-Wangon-Banjar-Pangandaran.
Dalam perjalanan ini, kita kembali dibelakangi bis-bis Budiman serta spanduk-spanduk jualan Rumah Makan Taman PringSewu. Rasa menasaran yang bercampur dengan rasa lapar semakin memuncak. Dan kita pun bersikeras agar bisa mampir di PringSewu yang melegenda selama perjalanan ini. Secara dari perjalanan pergi dan pulang, kita selalu disuguhi spanduk-spanduk PringSewu, gimana nggak terpatri dalam ingatan.
Akhirnya, dengan mata berkaca-kaca dan bibir yang melepuh kering karena kelaparan, akhirnya kita sampai di PringSewu. Dan walaupun tidak seperti yang diharapkan (taman yang ternyata cuma seuprit dan menu hidangan yang terbatas, karena banyak yang udah habis), tapi kita berhasil menghapus kegalauan kita akan tempat ini. Btw, mengenai spanduk PringSewu ini, ternyata PringSewu berhasil mencatatkan dirinya dalam rekor Muri, dengan spanduk teruntut, terpanjang, yaitu 137km!! Ucapan rekor ini besar terpampang sebelum pintu masuk PringSewu.
Sehabis dari PringSewu, kita melanjutkan perjalanan ke Pangandaran. Kita sampai di Pangandaran sekitar pukul 7 malam (30 Desember 2006), dan langsung mencari Mesjid-Mesjid yang paling nyaman buat tempat nginep gratis. Setelah melakukan proses seleksi yang ketat selama hampir 2 jam, kita dapetnya malah Hotel Sunrise Beach Pangandaran yang lengkap dengan kolam renang dan dipenuhi orang-orang keturunan Cina. Bahkan, hanya kita dan pekerja Hotel yang berwajah asli Indonesia (maksudnya mirip pulau-pulau di Indonesia).
Karena, peristiwa Tsunami, beberapa bangunan masih memperlihatkan bekas terjangan dasyhat Tsunami. Akibatnya, Pangandaran masih sepi dari pengunjung dan Hotel-hotel pada melakukan diskon besar-besaran demi menarik pengunjung. Bayangkan aja, dua hari sebelum Tahun Baru pada wiken panjang kita masih bisa memesan kamar.
Mulai dari makan Sea Food, berenang di pantai, ke Cagar Alam, hingga mencari pantai pasir putih dengan susah payah (karena beberapa kali tersesat) dan perasaan bete (karena hujan dan angin kencang) dan diakhiri acara perpisahan dengan Pangandaran dengan memandang pantai Pangandaran selama 1 jam yang diiringi isak tangis dan ingus yang bercucuran sekitar jam 4 sore keesokan harinya (31 Desember 2006). Pokoknya kita sangat menikmati 22 jam kita di Pangandaran.
Sekitar jam setengah 6 sore, kita cabut menuju pulang. Dan walaupun tidak direncanakan dari awal, tapi kita ternyata bisa mengejar sampai di Bandung sekitar jam 23.30 (31 Desember 2006). Dan, kita pun memutuskan untuk menikmati malam tahun baru di kota "kembang" ini.
Tepat jam 24.00 (31 Desember 2006) atau jam 00.00 (1 Januari 2007), kita berada di bawah bayangan jembatan Pasupati (Pasteur-Sulanjana-Surapati) dan menikmati suasana langit Bandung yang ramai dengan percikan kembang api dengan trilyunan orang-orang lainnya di Jembatan Pasopati itu. Pokoknya rame!!
Cerita yang menarik untuk mengakhiri tahun 2006 dan memulai tahun 2007. Ya nggak seh? Yuhuuu!!
SELAMAT TAHUN BARU 2007 SEMUANYA!!
Sayangnya, cuma 3 anggota PC Media yang hadir di acara ini, yaitu Fanny, Yanuar, dan Wiryadi. Dan dengan kebaikan keluarga Ika, kita sudah disediakan rumah untuk tempat nginep di dalam kompleks Pertamina. Sebenarnya rumah ini berkapasitas 6000 orang dan sudah dilengkapi arena joging dan sabung ayam (ini rumah atau stadion bola sih?). Tapi, di rumah sebesar dan seluas itu, hanya diinepin ama 3 orang. Jadinya kita tidurnya seenaknya aja, kepala di kamar mana, kaki di kamar mana, dan tangan di kamar mana. Pokoknya seenaknya deh.
Namun, 3 makhluk ini pantas disebut "petualang tangguh". Bagaimana tidak? Bayangkan saja, perjalanan dimulai pukul 16.30 (29 Desember 2006) dari Jl. Kramat IV, bahkan jam kantor belum selesai udah nekat kabur!! Tangguh gak tuh? Ok, itu mungkin masih biasa...
Coba yang ini, perjalanan pertama menuju Bandung melalui tol Cipularang. Dan sempat mencicipi tahu di daerah Cileunyi, kemudian perjalanan diteruskan ke Cilacap melalui rute Nagrek-Tasikmalaya-Banjar-Wangon. Dan selama diperjalanan, selain udah kenyang melihat kesemokan pantat bis-bis Budiman, kita juga selalu dibuat penasaran oleh spanduk-spanduk Rumah Makan Taman PringSewu yang hadir di pinggir jalan setiap beberapa ratus meter. Padahal jarak ke tempat makan itu masih jauh, sekitar 50an kilometer. Dan yang bikin penasaran lagi, udah dibikin penasaran sama spanduk reklame, rumah makan itu belum sempat disinggahi malam itu. Malah mampir di rumah makan yang cuma berjarak 100 meter sebelum PringSewu. Iihh... payah banget gak sih? Secara sudah dibikin penasaran sama milyaran spanduk yang dilewati, eh malah gak dimampirin.
Perjalanan sampai di Cilacap sekitar jam 2 pagi (30 Desember 2006) yang langsung menuju rumah keluarga Ika yang kemudian diteruskan ke rumah inep yang tadi udah dibahas. Kemudian istirahat selama dua hari... :) Bo'ong ding!
Sekitar jam 11an siang (6 jam dari kedatangan di Cilacap) kita menuju acara nikahan Ryan - Ika. Di acara ini bisa kita temukan, Bakwan Malang, Empek-empek, Soto Sulung, Soto Ayam, Sate Ayam, dan lain-lain. Eh, iya lupa... tentunya sama ada si Ryan sama Ika sebagai pasangan pengantin baru. Di sini sangat terlihat jelas tujuan kita ke acara ini. Makanan! He he he...
Setelah kenyang menikmati hidangan dan berfoto-foto dengan pengantin, dari Gedung Patra Graha, sekitar jam 2 siang (30 Desember 2006), kita langsung cabut ke Pangandaran melalui rute Cilacap-Wangon-Banjar-Pangandaran.
Dalam perjalanan ini, kita kembali dibelakangi bis-bis Budiman serta spanduk-spanduk jualan Rumah Makan Taman PringSewu. Rasa menasaran yang bercampur dengan rasa lapar semakin memuncak. Dan kita pun bersikeras agar bisa mampir di PringSewu yang melegenda selama perjalanan ini. Secara dari perjalanan pergi dan pulang, kita selalu disuguhi spanduk-spanduk PringSewu, gimana nggak terpatri dalam ingatan.
Akhirnya, dengan mata berkaca-kaca dan bibir yang melepuh kering karena kelaparan, akhirnya kita sampai di PringSewu. Dan walaupun tidak seperti yang diharapkan (taman yang ternyata cuma seuprit dan menu hidangan yang terbatas, karena banyak yang udah habis), tapi kita berhasil menghapus kegalauan kita akan tempat ini. Btw, mengenai spanduk PringSewu ini, ternyata PringSewu berhasil mencatatkan dirinya dalam rekor Muri, dengan spanduk teruntut, terpanjang, yaitu 137km!! Ucapan rekor ini besar terpampang sebelum pintu masuk PringSewu.
Sehabis dari PringSewu, kita melanjutkan perjalanan ke Pangandaran. Kita sampai di Pangandaran sekitar pukul 7 malam (30 Desember 2006), dan langsung mencari Mesjid-Mesjid yang paling nyaman buat tempat nginep gratis. Setelah melakukan proses seleksi yang ketat selama hampir 2 jam, kita dapetnya malah Hotel Sunrise Beach Pangandaran yang lengkap dengan kolam renang dan dipenuhi orang-orang keturunan Cina. Bahkan, hanya kita dan pekerja Hotel yang berwajah asli Indonesia (maksudnya mirip pulau-pulau di Indonesia).
Karena, peristiwa Tsunami, beberapa bangunan masih memperlihatkan bekas terjangan dasyhat Tsunami. Akibatnya, Pangandaran masih sepi dari pengunjung dan Hotel-hotel pada melakukan diskon besar-besaran demi menarik pengunjung. Bayangkan aja, dua hari sebelum Tahun Baru pada wiken panjang kita masih bisa memesan kamar.
Mulai dari makan Sea Food, berenang di pantai, ke Cagar Alam, hingga mencari pantai pasir putih dengan susah payah (karena beberapa kali tersesat) dan perasaan bete (karena hujan dan angin kencang) dan diakhiri acara perpisahan dengan Pangandaran dengan memandang pantai Pangandaran selama 1 jam yang diiringi isak tangis dan ingus yang bercucuran sekitar jam 4 sore keesokan harinya (31 Desember 2006). Pokoknya kita sangat menikmati 22 jam kita di Pangandaran.
Sekitar jam setengah 6 sore, kita cabut menuju pulang. Dan walaupun tidak direncanakan dari awal, tapi kita ternyata bisa mengejar sampai di Bandung sekitar jam 23.30 (31 Desember 2006). Dan, kita pun memutuskan untuk menikmati malam tahun baru di kota "kembang" ini.
Tepat jam 24.00 (31 Desember 2006) atau jam 00.00 (1 Januari 2007), kita berada di bawah bayangan jembatan Pasupati (Pasteur-Sulanjana-Surapati) dan menikmati suasana langit Bandung yang ramai dengan percikan kembang api dengan trilyunan orang-orang lainnya di Jembatan Pasopati itu. Pokoknya rame!!
Cerita yang menarik untuk mengakhiri tahun 2006 dan memulai tahun 2007. Ya nggak seh? Yuhuuu!!
SELAMAT TAHUN BARU 2007 SEMUANYA!!









Begitu mengharukan secara gw yg kagak ngikut, jadi tambah sebel tuh sama anak2 yang pada gak ngikut:P:P, Palagi ada salah seorang seken bos yang critanya seh gak ngikut karena mau ngerjain artikelnya eeee percumalah, wong masuk tgl 2, artikelna blom selse. Ini secara apa sih kerjanya? Hahahahaha...
Posted by
Bunda Renny | 4:04 PM
Post a Comment